Foto Montok ABG

Cerita dewasa | foto bugil | toket STW | memek ABG






Kisah Sedih Indri

Aku semakin akrab dengan teman-temanku, apalagi dengan banyaknya pengalaman yang sudah kami lalui bersama. Baru beberapa minggu boss Herman telah berangkat ke Bali bersama Agnes dan anaknya Chelsea. Mereka melaksanakan acara kawin tamasya. Saya sangat tahu, Herman pasti sangat terpukul dengan masalahnya bersama Agnes, dan sebagai pria sejati, ia harus menikahi Agnes. “Man, gue percayakan tempat ini padamu, jaga baik-baik sama teman-teman”, pesan Herman kepadaku sebelum ia berangkat. Padahal teman terbaiknya adalah Tono, tapi karena sifat Tono yang tidak begitu serius malah membuat Herman sedikit kurang percaya padanya. Hanya saja Herman tak mau menyinggungnya, paling cuma suruh kami bersama-sama menjalankan usaha pijat plus-plusnya. Seperti biasa, kami berjaga-jaga, ada beberapa yang sedang dilayani para gadis di sini, sedangkan beberapa teman lagi sedang sibuk dan tidak bisa bantu di sini. Hanya aku dan Tono saja yang berjaga di sini, cukup bete juga, soalnya kalau ada yang lain, biasanya kami sambil bermain play station. “Man, gue tinggal bentar ya…”, kata Tono. “Kemana lu?”, tanyaku. “Bentar saja kok, nanti lu juga tau…”, tak mau menceritakan dengan jelas, Tono langsung berjalan pergi ke arah parkiran. Ia pun cabut dengan menggunakan motor Ninja RR bekas punya Herman yang dipinjamkan kepadaku. Sial, pikirku dalam hati, sendirian berjaga di sini, bikin tambah bete saja. Untung saja usaha kami masih belum terlalu ramai, jadi aku tidak perlu terlalu sibuk menyambut tamu. Tak lama ada pelanggan yang datang, seorang bapak-bapak yang sudah cukup berumur. “Maaf pak, yang lain sedang kerja…”, kataku karena Fenny, Ayu, Widya dan Lisa sedang melayani pelanggan. “Itu, yang biasa pijitin saya… Saya lupa namanya…”, kata bapak itu yang mengisi buku tamu dengan nama Sukoco. Baru ku ingat kalau nama ini sering memakai tante Yully. “Oh, maksudnya Yully?” jawabku. Tante Yully sebenarnya di sini hanya untuk membantu menyiapkan makanan bagi kami, tapi ketika kondisi ramai, tante Yully bantu turun tangan. Akupun menelpon ke lantai atas agar tante Yully turun dan menjemput konsumen. Kami memang masih kekurangan personil, sering saja kami kebingungan ketika ada yang mendadak datang dengan rombongan. Moga-moga saja sudah tak ada yang datang, bilapun ada ya moga-moga gadis di sini sudah selesai men-service pelanggan. Tak lama menunggu, terdengar suara ribut dari motor Ninja RR, ternyata Tono sudah kembali. “Tak lama kan, Man? Hahahaha..”, Tono datang bersama seorang cewek yang masih sangat muda. “Wuih, siapa yang lu bawa Ton?”, tanyaku. Tono pun menarik tangan cewek itu agar maju dan berkenalan denganku. “Kenalin Man, ini pacar gue…”, kata Tono, lalu disambung cewek itu, “Indri, bang…”, sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman denganku. “Satorman…”, balasku berjabat tangan, cewek ini masih ABG, cantik dan manis, rambutnya hitam panjang terurai. “Wah, cantik banget Ton? Kalian kayak langit dan bumi… Wkwkwkwkwk…”, olokku. Tono terlihat kesal dengan olokkan ku, lalu menjawab, “Makanya saling melengkapi…”, balasnya. Mereka pun kemudian pacaran di balik meja, waduh, tambah bete lah saya nih. Tak mau menjadi ‘obat nyamuk’ saya pun berjalan keluar mencari angin. Lalu ada seseorang masuk ke tempat kami, wah, ada langganan lagi. Biarin saja ah, biar Tono kena pusingnya pikirku. Tak lama kemudian aku malah melihat Indri berlari keluar sambil menangis. Aku penasaran apa yang terjadi dan aku coba mengejarnya, “Dri…!” teriakku, lalu Indri memelankan larinya. “Ada apa?..”, tanyaku. Indri hanya menutup mukanya yang tengah mengucurkan air mata, “Hiks hiks hiks.. Tonoo ja… jaahaaatttt…..”, katanya. “Apa yang dia lakukan?”, tanyaku. Indri diam tak mau menjawab, lalu ku tenangkan dirinya, “Sudah… Sudah… Nanti kalau sudah tenang baru cerita ya…”, sambil menepuk pundaknya. “Ayo biar gue antar pulang…”, aku menawarkan bantuan. “Gak… Biar Indri jalan kaki saja…”, jawabnya. “Oke, hati-hati ya, kalau perlu bantuan, hubungi gue aja…”, sambil memberikannya nomor hp. “Thanks ya bang…”, jawabnya kemudian berjalan menjauh mencoba untuk menegarkan diri. Aku pun kembali ke usaha kami, kulihat Tono masih di depan meja berbincang dengan langganan tadi. Karena ada langganan, aku pun menunda niatku untuk bertanya. Lalu langganan yang berwajah brewokan itu pun kemudian duduk di kursi tunggu, sepertinya dia mau menunggu ada gadis yang selesai melayani pelanggan lain. Lalu ku tarik Tono menjauh dari langganan itu, ku bertanya dengan berbisik, “Ton, kok Indri nangis?”. Tono lalu tersenyum, “Aku suruh dia bantu sebentar jadi pekerja di sini…”, berkata tanpa beban. “Apa? Lu suruh dia layani bapak itu?!”, tanyaku meyakinkan. “Mau gimana lagi Man?”, “Loh, Indri itu pacar kamu Ton, teganya dirimu…”, jawabku sedikit kesal dengan jawaban Tono. “Biarin saja, gue juga ga suka cewek baik-baik…”, jawab Tono kemudian kembali ke meja. Itulah sifat Tono, bukan hanya mau mencicipi pacarnya tetapi juga mau menjualnya. Karena kesal, aku pun naik ke lantai tiga untuk tiduran, “Gue ngantuk Ton…” kata ku ke Tono. “Oke, biar gue jaga aja, tar Andi mau nyusul ke sini…”, katanya. Sambil berbaring-baring di kamarku kemudian hp ku berbunyi, nada sms yang membuat aku membuka hp penasaran siapa yang mencariku. Nomornya tak saya simpan, tapi coba saya lihat isinya, ‘Bg, nih Indri… Indri dah pts ma bg tono… T.T’ isi sms itu membuatku terkejut. Ternyata Indri me-sms-ku untuk sedikit curhat. Aku pun menanggapinya agar ia bisa meluapkan perasaannya. Sms cukup lama hingga aku terasa ngantuk, Indri sangat kecewa dengan Tono, tapi Tono memutuskannya hanya karena Indri tidak mau memenuhi kemauannya. Karena tak mampu menahan kantuk, akupun meminta Indri menyambung besok, walaupun aku tahu Indri masih belum bisa menerima keadaan ini. Besoknya Indri masih sms aku, ternyata benar, Indri semalam tidak tidur, ia masih tidak bisa melupakan Tono. Untuk menenangkannya, aku pun ke rumahnya untuk bertemu. Indri ternyata sendirian di rumah, ayah dan ibunya sedang bekerja, Indri sendiri sekolah SMU masuk siang, dan adik laki-lakinya masuk pagi. Hari ini Indri banyak curhat, aku mencoba menenangkannya agar ia tabah. Hingga jam sebelas Indri sudah harus siap-siap pergi ke sekolah, aku pun pamit pulang. “Ton, lu uda putus dengan Indri?”, tanyaku ketika bertemu Tono di tempat usaha kami. “Iya…”, jawabnya, “Lu mau Man? Ambil aja… Hahaha…”, balasnya sambil tertawa. “Ckckckck, gadis cantik gitu elu sia-sia kan, masih muda dan baik…”, kataku. “Tak apa-apa Man, gue belum terpikir untuk hubungan lebih lanjut, gue masih pengen senang-senang…”, jawabnya. Pulang dari sekolah, Indri masih sms denganku, ia menanyakan kondisi Tono, aku pun menjawab yang aku tahu. Indri sepertinya masih memikirkan Tono. Kami pun kembali ber-sms-an hingga larut malam. Besoknya aku kembali ke rumah Indri, tepat jam 08:00 di mana rumahnya sudah kosong hanya tinggal Indri seorang, karena aku tidak mau ketahuan orang tua Indri akan kedatanganku, apalagi statusku yang bekerja di usaha pijat plus-plus itu. Indri menyiapkan kopi untukku, matanya masih merah akibat menangis tadi malam, Indri benar-benar terpukul, rambutnya acakan karena baru bangun, “Abang tunggu dulu ya, Indri belum mandi…”, katanya. “Ah, gak pa pa kom In, gak mandi saja Indri sudah harum, apalagi mandi…”, kataku. Indri lalu tersenyum, ia menunda mandinya lalu duduk bersamaku. “Bang, thanks ya sudah hibur Indri…”, katanya. Aku sebenarnya kasihan dengannya, mendengar ia belum pernah pacaran, ini merupakan pertama kali ia putus. “Ya sudah, Indri lupakan saja… Masih banyak kok cowok-cowok lain yang lebih pantas buat Indri…”, jawabku sambil membelai rambutnya. Aku juga coba menghapus air matanya dengan tissue yang ada di kotak di atas meja. Lalu kuciumi keningnya agar ia lebih tenang, hmmm, masih bau baru bangun tidur. Indri terlihat sudah semakin tenang. Lalu ku arahkan ciumanku ke pipinya, Indri tidak menolak, hingga beradu dibibirnya. Gadis yang masih duduk di bangku SMU kelas dua ini terlihat sangat polos, wajah cantiknya membuatku sedikit terangsang, hingga terbesit niat jahat yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan. Argh, jangan, pikirku, Indri adalah pacar Tono, temanku. Lagian Indri juga menganggapku sudah seperti abangnya sendiri. Kalau aku berbuat yang tidak-tidak, sama saja sifatku dengan Tono. “Indri mandi aja, tar sakit loh…”, aku memintanya. “Sebenarnya Indri takut sendirian di rumah, makanya minta abang ke sini… Dulu adik Indri juga masuk siang, jadi Indri masih ada yang temani…”, “Ya uda, abang gak kemana kok…”, sungguh polos ABG satu ini. Indri pun kemudian masuk ke kamarnya, ketika keluar ia hanya mengenakan handuk, “Bang, boleh jaga depan pintu kamar mandi ga?”, tanya Indri. “Iya deh…”, aku mengiyakan agar Indri tidak takut. Indri pun masuk ke kamar mandi, sedangkan aku hanya diam menunggu di depan pintu kamar mandi. Sejenak masih terbesit niat busukku, tak mampu menahan otong yang mengeras karena membayangkan Indri sedang mandi, lalu aku pun mengetuk pintu kamar mandinya. “Ada apa bang?”, tanya Indri sedikt membuka pintu, tapi tubuh dibalik pintu membuatku penasaran ingin melihatnya. “Sebenarnya abang juga belum mandi”, aku coba membuka lebih lebar pintunya, Indri hanya diam hingga aku masuk ke dalam kamar mandi. Wow, indahnya tubuh Indri yang sudah basah. “Sini, biar Indri mandiin…”, kata Indri. Tubuhnya sangat seksi, walaupun susunya baru tumbuh sehingga tidak terlalu besar, tapi wajah ayu nya membuat aku memberi nilai 80+ untuknya, bulu vaginanya pun masih jarang-jarang. “Tapi jangan macam-macam ya bang…”, lanjutnya. Tak sabar dimandiin Indri, aku segera membuka pakaianku hingga bugil. “Ih, Indri ga pernah liat beginian, yang namanya peler kayak begini ya bang?”, tanya Indri. Aku kemudian menarik tangannya untuk menyentuh penisku, “Pegang saja Dri biar tau…”, kataku. Indri agak ragu memegang penisku, dengan seksama ia melihat jelas penisku, dibaliknya untuk menjawab rasa penasarannya, lalu juga melihat buah jakarku. Beberapa menit ku biarkan Indri meneliti bagian kemaluanku, hingga aku juga sedikit berdusta, “Sebenarnya abang juga belum pernah lihat tubuh perempuan…”, kataku. “Yang benar aja bang? Sekarangkan sudah lihat…”, Indri lalu berdiri tegak membiarkan aku melihat tubuhnya. Aku memandanginya sambil bermandikan air shower. Aku perlahan mendekatkan wajahku ke payudara nya, berpura-pura lugu, “Ini ya susu perempuan, menonjol ya, ga kayak punya abang”, lalu aku menjamahnya. Beberapa menit menjamah susunya, lalu kusedot putingnya, “Kok gak berair Dri?”, aku masih pura-pura lugu. “Kalau dulu belajar biologi, katanya mau punya anak baru bisa punya air susu”, jawab Indri yang benar-benar polos. Masih sambil meremas dan mengenyot susunya, aku pun mencoba ke langkah berikutnya, “Emangnya buat anak gimana Dri?”, “Ah, jangan bang… Indri gak mau…”, jawab Indri yang sedikit sudah tahu maksudku, ia mendorong aku sedikit menjauh. “Abangkan cuma tanya…”, jawabku. Agar dia tidak curiga, aku masih pura-pura lugu, “Nih biar abang pakaikan sabun…”, Indri mengambilkan botol sabun cair. “Tunggu, abang masih penasaran bentuk memek itu kayak bagaimana…”, sambungku. Indri pun sedikit melebarkan kakinya, aku berjongkok untuk melihat jelas vaginanya. “Hmm, kayak begini ya?”, masih berpura-pura lugu. Aku coba menyentuhnya dan membuka dindingnya, wow, masih merah muda. “Jangan diapa-apain ya bang…”, kata Indri tak mau aku memasukkan jariku. “Gak lah Dri, masa depan Indri lebih penting…”, balasku. Berpura-pura masih penasaran, aku semakin mendekatkan wajahku ke vaginanya, semakin dekat hingga kuciumi sekitar vaginanya. “Boleh abang cium Dri?”, Indri mungkin tidak mengerti, aku memintanya duduk di lantai dan membuka pahanya, segera kuciumi itu vagina yang benar-benar sempit tak pernah terjamah. Kumainkan lidahku di lubang vaginanya, terus terus dan terus, hingga beralih ke klitorisnya yang membuat Indri sedikit kegelian. “Geli bang…”, Indri lalu menjambak rambutku. Biarin saja, aku mau membuatnya sedikit terangsang agar ia mau menyerahkan keperawanannya bagiku. “Ah…”, desah Indri yang tak pernah merasakan sensasi ini. Kumainkan klitorisnya dengan bibir dan lidahku, hingga ia menggelinjang. Sepertinya ia sudah terangsang, tinggal sedikit aku bersuara untuk merayunya. Tapi tiba-tiba aku masih berpikir baik, tak mau membuat yang lebih lanjut terhadap Indri. Aku kemudian menjauh dari vaginanya. Aku berpikir tidak akan merebut keperawanannya, cukup dapat blowjob saja mungkin bagiku sudah cukup. “Indri masih penasaran dengan peler? Kalau diemut enak loh…”, aku menawarkan penisku kepadanya. Indri yang sedikit terangsang kemudian kembali memegang penisku. Aku memegang tangannya, mengajarkan ia bagaimana cara mengocok penis. Indri mengikuti irama genggaman tanganku, lalu ku pegang kepalanya dan menuntunnya ke penisku. Indri tak mau membuka mulutnya, “Coba saja Dri, kayak lolipop loh”, aku membujuknya. Akhirnya ia pun membuka mulutnya, langsung saja kusodorkan penisku ke dalam mulutnya. Indri belum paham betul bagaiman cara mengemut, tapi dengan bibirnya yang mungil, penisku mendapatkan sensasi yang begitu luar biasa, penisku hanya dikulum, sesekali aku mengajarkannya memajumundurkan kepalanya. Penisku hangat sekali, Indri yang belum pernah melakukan ini tentu saja sedikit baginya ini sedikit jijik, ia pun melepaskan emutannya, dan beralih menggunakan tangannya untuk mengocok penisku. “Indri sangat cantik… Tono pasti menyesal sekali memutusin Indri…”, aku coba merayunya. Kemudian kamipun berpelukan hingga dada kami bersentuhan, hangat sekali, penisku pun masih tetap digenggam oleh Indri. Kemudian kulumat bibirnya yang seksi itu sambil berbisik, “Haruummmm…”, Indri termakan rayuanku, ia terus mengocok penisku dengan tangannya. Hingga akhirnya aku mencapai ejakulasi, penisku menyemburkan sperma hangat yang berlepotan ke tangan Indri. “Loh, ini apa bang?”, tanya Indri. “Ini namanya sperma… Kalau ini masuk ke vagina Indri maka Indri bisa hamil…”, aku menjelaskan. “Oh, gitu ya bang…”, Indri pun paham dan senang karna aku tidak memasukkan penisku ke vaginanya. Ia pun kemudian membersihkan tangannya dab juga penisku. Aku tidak mau cepat-cepat menyudahi adegan mandi ini, masih kupeluk dirinya lalu ku lumat buah dadanya. Kiri kanan bergantian, puting susu nya yang masih merah mudah terus ku gigit dan sedot, hingga akhirnya Indri buka mulut, “Nanti kesiangan bang…”, bermaksud menyudahi pergulatan kecil kami. Akhirnya kami hanya saling mengusapkan sabun, aku sebenarnya ingin sekali mengentotnya, tapi aku mesti bersabar kelihatannya. Kuusap tubuh Indri dengan sabun cair, susunya terlihat mengkilat, setengah bulat, membuat penisku kembali mengeras. Indri pun mengusapkan sabun hingga ke penisku. Batang kemaluanku pun itu kembali dikocoknya dan aku masih meremas susunya yang penuh sabun. Lalu kami kembali berciuman bibir di bawah siraman shower, hingga sabun yang belepotan di tubuh kami, bersih oleh air shower. Kami pun menyelesaikan mandi kami, aku mengeringkan tubuh Indri dengan handuknya, kami saling bergantian. Kemudian aku memakai kembali pakaianku, dan Indri kembali ke kamarnya hanya mengenakan handuk. Sungguh pengalaman tambahan bagiku hari ini. Badanku segar sekali setelah mandi, pas merogoh kocekku, baru ku ingat aku membawa sebuah kondom Durex. Pikiranku kembali melayang-layang, akhirnya ku putuskan membuntuti Indri hingga ke kamarnya. Pintunya tak tertutup rapat, ketika aku coba mengintip, Indri sudah mulai melepaskan handuk nya. Dalam keadaan bugil, aku lihat dia membuka lemarinya untuk mencari pakaian. Penisku kembali ngaceng, ku ketok pintu, lalu saat Indri menoleh ke sini, aku lalu membuka pintunya lebih lebar. Indri terlihat kaget karena aku memasuki kamarnya, “Dri, abang masih penasaran..”, aku pun masuk dan mendekatinya. “Ada apa bang?”, tanya Indri yang masih malu-malu kemudian menutupi dadanya dengan tangannya. “Wah, kamar Indri rapi banget… Indri pandai merawat kamar ya…”, aku mulai dengan rayuan-rayuan kecil, “Kamar Indri harum kayak penghuninya…”, tambahku. “Masa sih bang?”, Indri tersenyum hingga pipinya merona. Lalu aku tarik tangannya dan memeluknya, “Abang suka sekali bau harumnya Indri…”, lalu kuciumi lehernya. Indri tidak menolak, lalu aku pun menariknya untuk bertiduran di atas ranjangnya. Kukecup kening, pipi, leher hingga kulumat bibirnya, “Cantikkkk….”, bisikku ditelinganya. Aku pun beralih menciumi susunya, kuremas-remas, kulumat, kugigit dan tarik hingga Indri merasa geli. Puas menciumi susunya aku turun ke perut hingga ke vaginanya, aku kembalikan sensasi nikmat seperti di kamar mandi tadi. Kumainkan klitorisnya dengan lidah dan bibirku. “Arghhh…”, Indri mengerang keenakan. Aku tak memperdulikannnya hingga aku coba menyentuhnya dengan tanganku, ku coba masukkan satu jari. “Tidak!”, Indri langsung mendorongku, padahal aku sudah memasukkan jari tengahku, benar-benar masih sempit sekali. Tidak apalah pikirku, pelan-pelan saja. Aku pun kemudian membuka resleting celanaku dan mengeluarkan penisku. Indri sudah tahu apa kemauanku, lalu ia segera menggenggam penisku dan dikocoknya, “Aku gak mau tar abang kebablasan…”, kata Indri. “Gak kok Dri, abang juga ngerti kok dengan perasaan Indri…”, aku masih coba membujuk sambil penisku dikocoknya. “Kalau cuma pakai tangan, gak bakal hamil lah… Kalau pun pakai penis, tapi tak semprot sperma di dalam, juga akan aman-aman saja…”, meyakinkan Indri. “Masa bang? Indri sih tak mau sampai hamil…”, katanya. Aku pun langsung ke topik yang aku inginkan, “Gini, Indri penasaran ga gimana rasanya?”, “Dikit sih bang, tapi Indri takut…”, “Asyik loh… Gini saja, biar aman, abang pakai kondom saja, gimana?”, aku masih terus membujuknya. “Pasti aman bang?”, Indri kurang yakin. “Pasti!” tegasku. Indri kemudian terdiam, ia menyelesaikan kocokan tangannya, namun beralih dengan mulutnya. Wah, Indri sudah mulai mengerti nih, mungkin Tono saja yang terlalu kasar memperlakukannya. Kubiarkan Indri menyepong penisku dulu, mungkin ia sambil berpikir. Tanganku kubiarkan sibuk meremas payudaranya yang mungil. Saat Indri merasa lelah dengan sepongannya, ia pun melepaskan penisku dari mulutnya. Ini saatnya aku memakai kondom, “Indri, abang janji kalau pun Indri kenapa-napa, abang pasti tetap jagain Indri…”, aku pura-pura menguatkannya. Akhirnya perjuanganku berhasil. Indri luluh dengan bujuk rayuku. Aku kembali memainkan klitorisnya dan kemudian menusukkan jariku ke dalam vagina nya. “Oh…”, desah Indri. Ku kocok vaginanya dengan satu jari, cukup lama, hingga Indri terangsang dan vaginanya dibasahi air liang vaginanya. Ini saatnya ‘show time’ bagiku. Penisku yang sudah terpasang kondom segera ku arahkan ke vagina Indri. Mula-mula Indri masih ragu, ia mencoba mendorongku, aku memeluk erat tubuhnya agar ia tidak melawan, kuciumi bibirnya agar ia lebih tenang. Perjuanganku akhirnya berhasil, penisku berhasil jeblos ke dalam vaginanya yang benar-benar sangat sempit. “Sakiitttt….”, rintih Indri. “Nanti juga terbiasa, cantik…”, bisikku ditelinganya. Pelan-pelan lalu ku pompa vaginanya dengan penisku. “Argh…”, desahan Indri yang masih belum pernah vaginanya tersentuh siapapun. Aku tidak memperdulikan rintihannya, ku lumat bibirnya, ku remas susunya, dan ku genjot vaginanya. Oh nikmat sekali mengentot gadis ABG yang cantik begini. Ku belai rambutnya sambil berkata, “Dri, kamu benar-benar gadis terindah di dunia ini…”, agar Indri lebih tenang bersetubuh denganku. Walaupun kesakitan karena lubang vaginanya diobok paksa, tapi Indri merasa sedikit nikmat, rintihannya pun berubah menjadi nada kenikmatan. “Oh… Oh… Lagiiii…..”, desahnya yang membuat aku semakin bersemangat menggenjotnya. Indri masih polos, ia tidak tahu bagaimana caranya bersetubuh, mau tidak mau aku yang harus selalu di atas untuk menggenjotnya. Penisku kutarik keluar masuk di vaginanya yang masih rapat. Buah dadanya yang putih dengan puting merah muda sedari tadi tak luput dari ciumanku. Kalaupun Tono tidak mau, aku pun bersedia jadi pacar gadis ini, dan akan kuperlakukan dengan lembut. Lama berada di posisi atas membuatku sedikit kecapekan, akhirnya aku meminta Indri berganti posisi, awalnya dia bingung, setelah aku ajarkan, Indri mulai bisa bergaya WOT. Pinggulnya terus digoyang untuk mengocok penisku, sepertinya ia sangat menikmati percintaan ini. Aku sedikit bisa beristirahat, dengan baring-baring, aku hanya meremas-remas buah dadanya. “Bang, asyik bang…”, desah Indri. “Benar-benar asyik…”, sepertinya Indri sudah mencapai tahap klimaks, ia sepertinya mengejang-ngejang, peniskupun terasa dipenuhi air hangat yang terus bergejolak di dalam vaginanya. “Terus saja kalau enak Dri…”, pintaku, karena aku belum juga mencapai ejakulasi. Aku sangat tenang karena menggunakan kondom. Kulihat ke arah penisku yang terus dinaik-turunkan dengan tubuh Indri, tepatnya dilubang vagina Indri, terlihat cairan putih dari vagina Indri bercampur cairan berwarna merah, artinya aku berhasil merenggut keperawanan Indri. Sukses besar bagiku, yes teriakku dalam hati, kali ini mendapatkan perawan secara gratis. Semakin semangat aku bercinta dengan Indri, “Cepetin Dri…”, pintaku karena getaran kenikmatan sudah hampir mencapai ujung penisku. Jep, terasa sekali kalau aku sudah berejakulasi, penisku menyemprotkan sperma di dalam vagina Indri walaupun berlapis kondom tipis. Nikmat sekali bisa menyemprot dalam keadaan penis masih ter-‘gigit’ vagina. Indri pun kemudian merasa capek, sedari tadi ia sudah berejakulasi, akhirnya ia menarik vaginanya agar terlepas dari penisku. ‘Blep’ suara penisku terlepas dari cengkraman vaginanya, Indri lalu terbaring di sampingku. “Thanks ya Dri…”, kataku. “Tapi aku takut bang…”, jawabnya. Aku lalu melihat ke arahnya, kuciumi bibirnya agar ia tenang, lalu kupeluk erat tubuhnya. Sambil berpelukan, aku masih sempatkan menggombalinya, hingga ia merasa tenang. Sambil menunggu waktu aku masih menyempatkan diri meremas dan menyedot susunya. “Sudah siang bang…”, kata Indri lalu melepaskan pelukannya. Kulihat ke jam dinding ternyata sudah pukul 11:00, dan Indri harus berangkat ke sekolah, karena ia masuk jam 12:00. Kami pun kemudian beres-beres, Indri mengenakan seragam SMUnya, dan aku juga harus segera meninggalkan rumahnya. Karena sekitar jam 12:00 adiknya pulang sekolah, dan kadang orang tuanya pun pulang istirahat siang. Kubersihkan semuanya agar tak tertinggal jejak. Kondom bekasku terpaksa kubungkus kembali dengan kertas dan ku masukkan ke saku celanaku. Tapi sprey ranjang Indri ada bekas noda darah, Indri sampai pucat melihatnya, ia pun segera menariknya ke mesin cuci untuk segera mencucinya. “Biar saja bang, soalnya Indri yang ngurus masalah cuci mencuci, mereka gak akan curiga kok, paling ya alasan sprey sudah lama tak dicuci saja.”, kata Indri. Aku pun menjadi sedikit tenang mendengar Indri bisa mengatasinya. Aku pun berpamitan sebelum aku telat kabur dari sini. Sepanjang jalan aku masih memikirkan rasa nikmat ini, walau sedikit bersalah dengan Tono, namun sensasi ini tidak dapat kutolak, dan berencana besok harus mendapatkannya lagi. Sengaja aku tidak sms Indri hingga ia pulang sekolah, sekitar jam 20:00 tidak ada kabar darinya, aku mulai sms, ‘Dri, lg npain?’ tanyaku. Tapi sama sekali tak dibalas, membuatku sedikit khawatir, takut dia ternyata ketahuan orang tuanya. Sedari tadi aku mondar-mandir, sampai Tono pun bertanya, “Kenapa lu Man? Kayak cacing kepanasan aja…”, ejek Tono. Aku hanya diam, lalu masuj ke kamarku. Kucoba telpon, namun juga tak diangkat. Hingga aku tertidur tanpa sadar. Terbangun di pagi hari kulihat jam sudah menunjukkan pukul 09:45. Wah, padahal aku berencana mengunjungi Indri lagi. Ku cek hp ku ternyata ada sms masuk sekitar pukul 06:00 tadi pagi, ‘Sori bg, Indri smlm ketiduran, capek bgt sih’ ternyata sms dari Indri. Ku urungkan niat ku ke rumahnya, karena sudah capek, mungkin lain kali lagi baru minta jatah lagi. Beberapa hari berlalu, hubungan kami hanya lewat sms, selalu aku ingin ke rumahnya tapi Indri melarang. Entah apa yang terjadi hingga aku mengetahui darinya, dari sms Indri minta maaf padaku, ia sebenarnya tidak mencintaiku, ia ingin aku nelupakan hubungan kami, dan ternyata percintaan kami hanya dikarenakan pelampiasannya diputus oleh Tono. ‘Maaf bg, kemarin Indri sama bg Tono nyambung lagi’ isi sms terakhirnya. Setelah itu sms aku tidak pernah dibalasnya, membuat aku sadar kalau aku tidak dibutuhkan lagi. Aku pun tidak berani menanyakan kepada Tono, takut ia curiga akan hubungan kami. Tapi gelagat Tono sudah agak berubah, ia sering keluar, mungkin mengunjungi Indri, ia pun tak pernah membawa Indri ke tempat usaha kami lagi. Semoga hubungan kalian langgeng ya bro, doaku dalam hati. Aku menjadi senang mendengar teman berbahagia, walaupun ada sedikit rasa kecewa. Inilah yang terbaik dan terindah.

Pencarian terkait:

muviza dot com,buligir com,Foto Indri AG bugil,Indri ag ngentot,indri montok,indri diperkosa cerita,cerita ngintip kakak ipar selingkuh,Mastrubasi tante indri 3gp,Bkep india,www dotkom wapdam
Foto Montok ABG © 2015 Frontier Theme